Reklamasi Dinilai Solusi Atasi Masalah Ibukota

  • Reklamasi Dinilai Solusi Atasi Masalah Ibukota
  • Reklamasi Dinilai Solusi Atasi Masalah Ibukota
Megapolitan

Jakarta - Pakar teknologi lingkungan Firdaus Ali mengatakan bahwa reklamasi di Teluk Jakarta merupakan salah satu solusi yang akan membantu dalam mengatasi permasalahan Jakarta.

Tak hanya untuk melakukan restorasi Teluk Jakarta, penambahan luas kota juga bisa meningkatkan daya tampung dan daya dukung lingkungan ke depan.

"Dengan reklamasi 17 pulau, paling tidak akan menambah 5.200 hektar lahan ibukota," jelas Firdaus Ali dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (11/21/2017).

Reklamasi juga akan merevitalisasi wilayah utara Jakarta yang secara kualitas relatif lebih rendah dibandingkan wilayah lainnya di Jakarta.

Firdaus Ali menjelaskan meningkatnya kualitas wilayah di bagian utara Ibukota berpotensi untuk meredistribusi sebaran penduduk Jakarta dari daerah-daerah resapan air, seperti di selatan Jakarta, ke wilayah yang kepadatan penduduknya relatif lebih rendah, dalam hal ini di wilayah utara Jakarta

Hal-hal yang berpotensi memberikan dampak buruk terhadap lingkungan akibat reklamasi seharusnya dapat ditangani dan diantisipasi. Kemampuan manusia memahami alam semakin meningkat.

"Perkembangan teknologi semakin mampu mewujudkan reklamasi yang ramah lingkungan," ujar Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini.

Di sisi lain, adanya kegiatan reklamasi juga akan membawa peluang ekonomi baru. "Ini akan membuka peluang bagi perbaikan kondisi sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir tradisional melalui suatu perencanaan terpadu," tambah Firdaus Ali.

Menurut Firdaus Ali, Jakarta sedang menghadapi berbagai permasalahan serius terkait daya tampung dan daya dukung (carrying capacity) lingkungan yang terus menurun tajam akibat beban populasi yang semakin tinggi. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk DKI Jakarta tahun 2016 adalah 10.248.000 jiwa.

"Dengan luas daratan hanya sekitar 662 kilometer persegi, ibukota sudah relatif padat," kata Firdaus Ali, yang juga merupakan Direktur Indonesia Water Institute ini.

Beban populasi yang tinggi di tengah lahan dan ruang yang terbatas, menurut Firdaus Ali, menjadi tantangan bagi siapapun yang menjadi pemimpin Jakarta untuk membuat Jakarta sebagai ibukota yang berkualitas. Para pemangku kebijakan, termasuk anggota legislatif, juga harus ikut mendukung pemerintah mencari solusi untuk menjadikan Jakarta sebagai ibukota yang nyaman bagi masyarakat.

Kelengkapan infrastruktur pendukung yang masih terbatas, mengakibatkan Jakarta dirundung berbagai permasalahan lingkungan yang semakin memperburuk tingkat kenyamanan hidup dan beraktivitas masyarakat. "Hal ini akan berimplikasi pada kualitas kesehatan lingkungan kota dan masyarakat yang tinggal di dalamnya," jelas Firdaus Ali.

Menurut Firdaus Ali, dalam beberapa dekade terakhir ini, kawasan pantai utara ibukota juga terus dihadapkan pada ancaman bencana terkait dengan pengelolaan air, baik yang berupa genangan, banjir, rob dan penurunan muka tanah yang semakin ekstrim. Jakarta juga memiliki tingkat water security (ketahanan air) yang buruk.

"Water security perkotaan, yang merupakan gerbang utama dan sekaligus etalase Indonesia, hanya sebesar 2,5%. Sementara, cakupan layanan sanitasi air limbah hanya mampu melayani 2,9%," papar Firdaus Ali.

Pada saat yang sama, tambah Firdaus Ali, wilayah pantura Ibukota dihadapkan pada ancaman naiknya permukaan air laut. Firdaus Ali memaparkan hasil simulasi yang dilakukan oleh Tim Geodesi dan Geologi ITB serta Indonesia Water Institute pada tahun 2012 yang menyimpulkan, jika tidak ada upaya signifikan untuk mengendalikan laju penurunan muka tanah di Jakarta, diperkirakan pada tahun 2050 hampir sekitar 95% wilayah Jakarta Utara akan berada di bawah permukaan air laut.

"Jika hal ini terjadi, kerugian ekonomi dan biaya sosialnya akan semakin besar," ujar Firdaus Ali.

Buruknya tata kelola lingkungan juga telah menyebabkan Teluk Jakarta terus mengalami penurunan kualitas lingkungan yang serius. Menurut Firdaus Ali, solusi untuk ibukota yang merupakan merupakan kota pinggir pantai harus dilakukan secara menyeluruh, terpadu, dan berkelanjutan dengan memikirkan terobosan. Untuk menambah daya tampung dan daya dukung ruang serta lingkungan, wilayah Jakarta harus dikembangkan,

"Opsi pengembangan lahan ke depan adalah ke kawasan pantai Teluk Jakarta," kata Firdaus Ali.

Reklamasi, jelas Firdaus Ali, sudah merupakan suatu keniscayaan akhir-akhir ini dan di masa yang akan datang. "Kita dapat melihatnya dari success story yang diperoleh oleh Tokyo Metropolitan dengan Teluk Tokyo-nya, Osaka, Shanghai, Dubai, Singapura, dan lain-lain," ujar Firdaus Ali.

Reklamasi bisa menjadi sebuah solusi pengembangan ruang yang menitikberatkan pada fungsi dan rekayasa lingkungan yang berkelanjutan. Pilihan ini selain merupakan upaya untuk menampung perkembangan dan pertumbuhan aktivitas perkotaan sekaligus juga sebagai upaya penataan, revitalisasi, dan perbaikan kualitas lingkungan di kawasan pantai yang sesuai dengan fungsinya.

Reklamasi di Teluk Jakarta bisa dikatakan pilihan terbaik untuk mengatasi problema ibukota yang multi-dimensional. Keseluruhan lahan yang berupa pulau-pulau baru di lingkungan Teluk Jakarta akan menjadi ikon pembangunan Kota Metropolitan Jakarta yang berbasiskan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

"Badan air telah menjadi aksesoris kota-kota maju dan modern dewasa ini dalam konsep Water Front City," kata Firdaus Ali.

Lebih jauh lagi, menurut Firdaus Ali, pulau-pulau tersebut juga bisa dirancang menjadi Integrated Waste and Environmental Management Facilities yang merupakan showcase Indonesia dalam upaya penanganan permasalahan lingkungan perkotaan pinggir pantai yang terpadu.

"Dengan demikian kita menunjukkan pembangunan metropolitan yang berkelanjutan serta mampu mengantisipasi tantangan peradaban ke depan," jelas Firdaus Ali.

Reklamasi Teluk Jakarta yang akan diintegrasikan dengan program NCICD untuk mengantisipasi dampak tingginya laju muka tanah di ibukota tentunya akan dapat menghasilkan tidak saja ruang binaan baru hasil rekasaya sipil, ekonomi, sosial, dan lingkungan.

"Hal ini juga dapat menciptakan kawasan Water Front City modern yang menyatukan aspek bahari yang ramah lingkungan," pungkas Firdaus Ali. [rok]




Warta Sejenis

memuat...

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!